Posted on

Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) bertransformasi menjadi Asosiasi Profesi Widyaiswara Indonesia (APWI). APWI secara resmi diluncurkan dan diperkenalkan kepada publik pada Hari Widyaiswara Nasional dan Puncak Peringatan Hari Jadi Ke-XX IWI Tahun 2020 yang diselenggarakan di Aula Prof. Dr. Agus Dwiyanto, MPA, Kantor Lembaga Administrasi Negara (LAN), Jalan Veteran 10, Jakarta pada Senin (21/9). Perubahan ini merupakan salah satu hasil dari Kongres Widyaiswara Ke-8 yang melibatkan widyaiswara dari seluruh Indonesia. Selain meluncurkan pergantian nama, pada puncak peringatan hari jadi ke-20 IWI ini juga diluncurkan logo, mars dan hymne APWI yang baru serta pengukuhan dan pelantikan jajaran pengurus APWI yang baru.

Kepala LAN Dr. Adi Suryanto, M.Si menyampaikan apresiasi setinggi tingginya terhadap APWI yang telah banyak melakukan berbagai langkah-langkah strategis dan koordinasi yang harmonis dengan LAN dalam upaya untuk kebangkitan profesi Jabatan Fungsional Widyaiswara, menjadi Jabatan Fungsional yang lebih terpandang dan sejajar dengan jabatan fungsional keahlian lainnya.

“Tantangan widyaiswara ke depan semakin banyak dan kompleks. Oleh karena itu, semakin pula kita dituntut untuk mencari jawaban atas lingkungan yang berubah. Saya yakin APWI bisa maju apabila setiap anggotanya memiliki fokus dan arah yang sama. Sehingga bisa bersama-sama melewati tantangan dengan baik dan menjadikan Widyaiswara menjadi tokoh terdepan dalam mengawal perubahan demi kemajuan bangsa,” tambahnya.

Adi Suryanto juga mengemukakan harapannya agar orientasi fungsi widyaiswara dapat dikembangkan lebih lanjut dengan penambahan kemampuan menulis sehingga mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan lembaga pelatihan, organisasi dan ilmu pengetahuan.

“Widyaiswara harus menjadi sebuah jabatan fungsional yang terpandang, unggul dan agile yang mampu menawarkan berbagai solusi dan terobosan permasalahan birokrasi, terutamanya dalam area pengembangan kompetensi ASN” tutup Adi.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Dr. Ir. Bima Haria Wibisana, MSIS dalam pidato kuncinya mengemukakan setidaknya ada 4 kompetensi penting yang harus dimiliki oleh widyaiswara. Hal ini diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan perubahan budaya, teknologi dan permasalahan yang kian kompleks, yaitu: complex problem solving, social skill, process skill, system skill dan cognitive skill.

“Kita tidak lagi menghadapi perubahan atau lompatan-lompatan yang bertahap, tetapi perubahan terjadi secara quantum, secara cepat dan drastis, bagaimana kita bisa survive kalo kita tidak melakukan hal yang sama,” tambahnya.

Bima Haria juga mengimbau para widyaiswara sebaiknya tidak lagi selalu mengacu pada pengalaman masa lalu. Ia meminta agar kemampuan berpikir kritis terhadap apa yang akan dihadapi di masa yang akan datang.

“Oleh karena itu, WI perlu update terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi saat ini dan di masa yang akan datang,” jelasnya (Sumber: lan.go.id)