Posted on

Lembaga Administrasi Negara (LAN) bekerjasama dengan Dewan Pengurus Pusat Ikatan Widyaiswara Indonesia (DPP-IWI) menggelar Kongres ke-VIII IWI Tahun 2020 di Aula Prof. Dr. Agus Dwiyanto, MPA, Kantor LAN Jalan Veteran 10, Jakarta Pusat, Jumat (18/9). Acara yang diselenggarakan secara klasikal dan virtual tersebut merupakan rangkaian kegiatan Pekan Kebangkitan Profesi dan Organisasi Widyaiswara di Era Adaptasi Kebiasaan Baru serta memperingati Hari Widyaiswara Nasional serta Ulang Tahun IWI ke-20.

Pada kesempatan tersebut, dalam sambutannya, Kepala LAN, Dr. Adi Suryanto, M.Si menyampaikan apresiasinya terhadap upaya IWI selama 20 tahun untuk terus berkiprah dalam upaya pengembangan organisasi profesi widyaiswara di tanah air, dan seiring dengan tantangan yang terus berubah, kini IWI bertransformasi menjadi sebuah organisasi profesi yang lebih adaptif dan modern.

“Sebagaimana diketahui bahwa sebagai guru bangsa, widyaiswara memiliki peran sangat strategis dalam mendidik ASN agar memiliki karakter, kompetensi serta kualifikasi yang profesional dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Oleh karena itu, widyaiswara membutuhkan suatu wadah organisasi profesi sebagai pemersatu gerak dan langkah dan segala pemikiran serta aspirasi untuk peningkatan kompetensinya,” tambahnya.

IWI yang saat ini telah bertransformasi menjadi Asosiasi Profesi Widyaiswara Indonesia (APWI) harus dapat memenuhi kebutuhan tersebut.  Tidak hanya itu, ia mengungkapkan APWI memiliki tugas strategis antara lain menyusun kode etik dan kode perilaku widyaiswara, pemberian advokasi, pemberian rekomendasi atas pelanggaran kode etik serta menerima dan menyampaikan aspirasi widyaisawara.

“Saya harap selama 2 hari ke depan, hal tersebut dapat segera disusun dengan pemikiran, ide inovasi dan paradigma baru yang ditawarkan widyaiswara dalam upaya mengantisipasi era revolusi industri 4.0,” tutupnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua DPP IWI, Dr. Budiarso Teguh mengatakan perubahan nama IWI menjadi APWI sebagai salah tonggak kebangkitan organisasi profesi Widyaiswara yang diakui sebagai badan hukum sebagai upaya mewujudkan Widyaiswara yang lebih profesional.

“Konsekuensi nya ialah harus diikuti dengan perubahan AD-ART, penetapan atribut organisasi, program kerja organisasi, serta  perubahan struktur dan pengurus dewan pimpinan pusat. Oleh karena itu, selama dua hari ini kita akan menyusun hal tersebut,” ungkapnya.

“Ia juga menyampaikan dua program baru yang akan diusung APWI yaitu pembentukan badan penerbit dan perpustakaan daring Widyaiswara, diharapkan dengan program baru ini akan mampu menjadi bagian dalam penguatan kompetensi widyaiswara dan bertransformasi guna mewujudkan birokrasi berkelas dunia 2024,” pungkasnya. (Sumber:lan.go.id)